Tips Merawat Sepatu

Posted in tips & trik on October 27, 2010 by ditorolies

Sepatu adalah bagian terpenting dalam kegiatan di alam bebas. Jenisnya banyak, ada sepatu boot, sepatu panjat tebing dsb. Bahannya juga beraneka macam. Ada yg dari karet, kain keras, gore tex sampai bahan kulit atau suede. Sebelum disimpan, sepatu harus dibersihkan dulu. Dicuci dengan air saja atau pakai shampoo khusus seperti misalnya Sneaker Shampoo buatan Kiwi. Sepatu dari bahan suede dan kulit perlu disikat dgn sikat khusus sepatu. Caranya, sikat direndam dulu dalam air. Ada juga bahan pembersih semprot untuk suede/kulit, misalnya Leather Cleaner buatan Cololite. Setelah bersih, keringkan dengan cara diangin-anginkan, jangan langsung kena sinar matahari. Lalu simpan, jangan di dalam kardus karena akan lembab dan terkena jamur. Boleh pakai silica gel, tapi harus diganti silikanya tiap 2 minggu. Paling baik sepatu disimpan di rak yg terbuka dgn posisi sepatu berdiri. Gunakan ganjalan dalam sepatu untuk menjaga bentuk. Kalau tidak punya ganjal khusus, bisa juga menyumpal bagian dalamnya dengan potongan2 koran. Kalau bagian sepatu ada yg lepas, rekat kembali dgn lem super atau Aica Aibon. Ingat, tiap perusahaan sepatu memakai lemnya sendiri, jadi lebih baik dilakukan oleh pembuat sepatunya. Setelah itu sepatu bisa disemprot dgn bahan pelindung, misalnya Protector buatan Dasco dsb. Bahan ini sekaligus melindungi sepatu agar kedap air. Jika ada, tutupi bagian plastik (sol misalnya). Ada juga bahan parafin / wax khusus sepatu untuk menutup bagian jahitan antara badan sepatu dengan sol supaya tidak bocor

sumber http://akashiroo.wordpress.com/2010/04/29/memilih-dan-merawat-sepatu-trekking/

Ada apa dengan Sepatu Mendaki Gunung?

Posted in sepatu on October 27, 2010 by ditorolies

Bahan sepatu yang baik harusnya bisa memenuhi empat syarat, yakni; membuat sepatu terasa lebih nyaman, bisa memperkecil risiko kulit kaki melepuh, bisa menyerap keringat dari kaki, dan mampu cepat kering.

Banyak produksi sepatu sekarang lebih memilih menggunakan bahan sepatu bermembran antiair tapi tetap dapat bernapas, seperti bahan Sympatex atau Gore-Tex. Karena bahan jenis tersebut menjamin tidak akan masuknya berbagai jenis cairan dan menjamin tercukupinya syarat bahan sepatu yang baik.

Jenis sepatu yang baik sekarang biasanya menggunakan tiga jenis lapisan sol. Sol terluar (outer sole), paling bagus terbuat dari bahan karet campuran. Karena dapat mengurangi risiko terpeleset bila sedang melakukan aktivitas di alam bebas. Cobalah lihat sol bagian terluar tersebut, yang baik biasanya memiliki pola tapak bergerigi dan pada tumit terdapat pola setengah bulat sehingga dapat menggigit tanah.

Dua lapisan sol yang lain adalah sol tengah (mid sole) dan sol terdalam (in sole). Sol tengah biasanya terbuat dari plastik atau lapisan nilon yang biasanya berjenis sangat tipis. Sementara kaku tidaknya lapisan tersebut tergantung dari dan untuk apa sepatu ini dibuat. Lapisan sol tengah yang kaku dibuat untuk pendakian gunung salju, sedangkan lapisan sol tengah yang semi kaku digunakan pada sepatu yang diperuntukan untuk trekking sampai dengan scrambling.

Sol bagian terdalam sepatu biasanya diambil dari bahan busa empuk. Tapi kebanyakan sepatu sekarang tidak didesain untuk mengoptimalkan fungsi ‘in sole’ tersebut. Fungsi sol terdalam yang mendukung kenyamanan dan kualitas peredaman terhadap kejutan sangat kecil.

Jika anda menginginkan lapisan ini bekerja lebih memuaskan disarankan Anda membuat anggaran lebih untuk hal tersebut. Sampai sekarang mulai banyak perusahaan sepatu perusahaan sepatu yang khusus memproduksi lapisan dalam sepatu seperti ini. Perusahaan seperti Spenco dan Sorbhotone mungkin menjadi satu-satunya pilihan yang ada sekarang. Meskipun ternyata masih sulit didapatkan di Indonesia. Tapi minimal Anda bisa membuat sendiri lapisan dalam ini dengan memotong lapisan busa tipis yang dilapisi kain bersifat menyerap cairan.

Pola Kaki

Bentuk sepatu bagaimana yang cocok untuk kaki kita perlu juga kita ketahui. Seperti kita ketahui ada berbagai jenis ukuran dan bentuk kaki manusia. Pola tapak yang berbeda membuat kita harus lebih teliti dalam memilih sepatu. Orang dengan pola tapak kaki lebar harus memilih sepatu dengan pola tapak lebih lebar, daripada sepatu yang mempunyai pola tapak sempit. Sekarang banyak perusahaan membuat sepatu yang disesuaikan dengan kelebaran tapak. Karena, biasanya sepatu untuk wanita didesain lebih pendek daripada untuk pria.

Semua gambaran di atas tentang bentuk sepatu tidak dapat hanya dilihat saja untuk mengetahui bagus tidaknya, tapi juga harus dirasakan dengan memakainya. Rasakan semua bagian dalam sepatu, termasuk lapisan busa yang ada di antara bagian atas leher sepatu dan rasakan juga bahan pelapis sepatu. Sepatu yang lebih rendah mutunya memiliki lapisan busa yang mempunyai fungsi penyerapan sedikit dan memerlukan waktu lama untuk kering.

Dalam kondisi beraktivitas di pegunungan atau alam bebas pilih sepatu yang memiliki lapisan pelindung mata kaki dan mempunyai lidah sepatu panjang serta menyatu dengan leher sepatu. Bagian ini kalau bisa ada lapisan nylon atau plastik di bagian dalamnya, ini dapat dirasakan di sekitar bagian leher dan lidah sepatu. Lapisan busa yang dilindungi plastik ini dapat mendukung kenyamanan sepatu dan berguna untuk melindungi kaki. Bagian leher sepatu yang menutup hingga mata kaki, melindungi kaki dan mata kaki dari terantuk batu dan terkilir.

Tips membuat sandal boneka

Posted in tips & trik on October 6, 2010 by ditorolies

Siapkan bahan untuk membuat Sandal Lucu dengan boneka : sepasang sandal karet, sepasang boneka flanel (dpt dibeli di toko perlengkapan asesoris/alat jahit), bahan kaos bercorak (saya gunakan kain kaos korea kiloan) buat ukuran 3 x 60 cm sebanyak 2 helai, lem lilin (lem tembak). Mulailah melilitkan bahan kaos pada pangkal tali sandal, beri lem lilin atau tembak di permukaan pangkal tali. Segera setelah diberi lem tempelkan ujung bahan kaos tekan-tekan sedikit agar menempel kuat. Usahakan ujung bahan tidak terlihat supaya rapi caranya lilitkan 2 sampai 3 kali pada pangkal tali sandal, lanjutkan lilitan tapi sebelumnya diberi lem dahulu. Sebelum melanjutkan lilitan beri lem dahulu disepanjang permukaan tali tetapi lakukan sedikit demi sedikit karena lem cepat kering. Lilitkan terus bahan kaos sampai bagian depan tali Beri lem, lilitkan lagi.. Sebelum melanjutkan lilitan beri lem dahulu disepanjang permukaan tali tetapi lakukan sedikit demi sedikit karena lem cepat kering. Lilitkan terus bahan kaos sampai bagian depan tali Beri lem, lilitkan lagi.. Pada bagian depan tali (yang menyudut) lakukan peliltitan 2 – 3 kali. Beri lem setiap setelah lakukan pelilitan, selesaikan hingga pangkal akhir tali sandal. Kelebihan bahan kaos digunting, lebihkan kain kira-kira 5 cm untuk pelilitan akhir. Ujung bahan kaos di beri lem, usahakan pelilitan tepat agar ujung kaos berada di bawah permukaan tali sandal, kalau kelebihan gunting sampai pas. Pelilitan selesai, sekarang beri lem pada sudut tali sandal untuk menempelkan boneka. Begitu juga beri lem pada bonekanya (permukaan belakang boneka). Tempelkan dengan segera, sedkit ditekan agar kuat. Boneka flanel sudah ntempel, perhatikan muka boneka harus saling berhadapan atau bersanding kiri karan dengan pas (cocok) karena tidak selamanya boneka yang dibeli saling berhadapan (sepasang), biasanya bermuka searah. Dan… o..la..la sudah jadi sepasang Sandal Lucu dengan boneka. Silahkan anda coba buat, sangat mudah caranya dan mudah mendapatkan bahan-bahannya. Beri kejutan untuk sikecil, pasti dia merasa senang mendapat hadiah dari kreasi mama!

Tipe Sendal

Posted in tips & trik on October 6, 2010 by ditorolies

Pada tipe sandal ini mempunyai beberapa keunggulan, seperti :

  • Sandal tipe ini mempunyai tali berbentuk selop agak terbuka dengan 2 buah tali yang berbentuk horizontal dan mempunyai tali tambahan di belakang yang menyerupai sandal gunung.
  • Sandal tipe ini banyak digunakan oleh anak – anak yang baru mulai belajar berjalan, tetapi cocok juga untuk digunakan oleh semua umur / remaja, dewasa, serta manula.
  • Pemesan tetap bisa memberi nama, gambar, serta warna dasar dan motif tali sesuai dengan keinginan.
  • Harga terjangkau mulai dari Rp 30.000,- sampai Rp 60.000,-
  • Ukuran yang tersedia mulai dari NO. 20 sampai NO. 46
Tipe Sandal F Plus
Tipe Sandal F2
Tipe Sandal F Plus
Tipe Sandal F2

Sendal Megalomen

Posted in sendal gunung on October 6, 2010 by ditorolies

Pria sekarang semakin doyan bersolek. Ah, bukan, bukan, maksudku semakin memperhatikan cita rasa dalam penampilannya, terutama yang tinggal di kota macam Bandung. Beragam aksesori pria semakin artistik dan mencerminkan karakter pemakainya, tak kalah dengan ragam aksesori wanita. Sebut saja untuk yang satu ini, sandal, yang selain berfungsi utama sebagai alas kaki, juga harus matching dengan kepribadian orang dan busana yang dikenakannya.

Alkisah saya sedang mencari sandal baru untuk menggantikan sandal lama yang sudah usang. Well, biasanya atas alasan kepraktisan, saya (dan mungkin sekian banyak pria lainnya) akan memilih sandal tipe ATS (All Terrain Sandal), alias sandal satu bisa dipake macam-macam. Mulai dari jalan-jalan santai sampai hiking ringan.Ya, benar, untuk yang begini, sandal gunung adalah jawabannya.

Selain penampilannya yang macho, sandal gunung terkenal awet, dan akibatnya, jarang dirawat alias jarang dicuci, karena pria menganggap sandal itu sudah mampu merawat dirinya sendiri (what?). Tak heran, banyak sandal gunung yang mengakhiri masa baktinya dalam keadaan yang cukup tragis. Terkoyak di sana-sini, hilang, sampai mengeluarkan bau yang tak keruan.

Strategi ATS ini jelas sekali menyimpan kekurangan besar. Coba pikirkan, apa jadinya mobil jeep yang biasa untuk offroad dipakai untuk datang ke acara-acara onroad? Ya, pemiliknya akan nampak cuek, tak bisa menempatkan diri, dan agaknya, si mobil juga malu. Demikian juga dengan sandal gunung yang dipakai untuk bertandang ke rumah orang lain, makan-makan silaturahmi di restoran, atau sekedar mampir ke toko buku besar. Sandal gunung akan nampak terlalu macho. Cuek lebih tepatnya.

Maka saya putuskan untuk mengubah strategi per-sandal-an ini. Mari kita pilih sandal yang sesuai dengan habitatnya. Gunung untuk hiking, dan sandal ala bapak-bapak mapan untuk selainnya. Bagaimana, canggih bukan? (kemana aja loe?). Sudah saatnya memperhatikan penampilan. Tak perlu macam model tersohor di Milan, tapi setidaknya tidak terlalu amburadul macam tentara baru keluar dari hutan. Maka sore itu strategi hebat ini diputuskan. Btw, alasan sebenarnya lebih pada harga sandal gunung bagus yang ternyata agak mahal, jadi ‘terpaksa’ cari alternatif tanpa harus kehilangan muka. Maka muncullah strategi di atas.

Sandal cokelat muda ini cukup manis dilihat dan nyaman dipakai. Tapi ternyata bukan itu daya tarik sesungguhnya yang ditawarkan pembuatnya. Wajar bukan, bila kita melakukan uji coba ‘kepeleset’ pada sandal yang mau kita beli. Maksudnya, saat dipakai, sandal mampu mencengkeram tanah dengan baik, sehingga kelak kita bisa sigap berlari jika harus mengejar seorang pencopet di keramaian mall. Maka kuperiksa telapak sandal itu.

Peta AustraliaPeta Australia

Subhanallah! Bukan main! Lihatlah kawan, telapaknya bukan sembarangan. Peta sebagian dunia, yakni benua Australia tertulis di atasnya! Tepat berada di kakimu kemana pun kau melangkah. Bukan main, betul-betul bukan main pembuatnya. Besar sekali imajinasinya membuat sandal. Bukan hanya untuk melangkah biasa. Melainkan ia ingin mengajak kita melangkah besar. Langkah yang mendunia. Jelajahi Australia dan dunia, mungkin begitu pesannya. Walaupun sangat sulit kuhindari untuk mengaitkan (sebagian) dunia di telapak sandal ini dengan konsep “Megalomania” dari Ustadz Anis Matta.

Konsep ala Nabi Sulaiman ini mengajarkan pikiran kita untuk mendunia, bahwa suatu saat nanti peradaban dunia ketiga, dunia timur, kelak minimal akan sejajar dengan peradaban Barat. Target ujungnya mengontrol, mendominasi, dengan nilai keimanan, kebaikan dan keadilan, tentu saja (tapi mengejar Barat untuk sejajar saja sudah ngos-ngosan, nggak nyampe-nyampe. Kita maju selangkah, situ sudah seribu langkah). Lalu mengadakan dialog peradaban, untuk bersama-sama membangun dunia yang lebih baik, yang lebih beriman, tepatnya. Dan untuk mencapainya harus dimulai dari pikiran megalomania itu.

Jadi, strategi membeli sandal megalomania ini sudah tepat nampaknya. Merasakan perasaan mendunia, “the world at your feet“. Entah mengapa tiba-tiba aku terkena sindrom megalomania ini. Aku merasa gagah sekali saat melangkah, disertai beban berat dari ‘dunia’ yang kuinjak setiap kali berjalan. Bukan main ini sandal. Sesaat aku merasa menjadi Ibnu Batutah atau Marcopolo yang mahsyur akan perjalanan keliling dunianya yang melegenda. Efek psikologisnya bukan main, rasanya kaki ini akan siap melangkah ke dunia, memimpin peradaban yang gilang gemilang, sekali lagi. Besar dugaanku pembuat sandal ini mungkin terinspirasi dari sandal-sandal milik para pembesar zaman kuno. Bukan tak mungkin para khalifah memesan sandal bertapak kaki peta dunia untuk memberinya sugesti lebih akan daerah yang akan dibebaskannya. Atau setidaknya seperti kata tokoh Arai dalam Laskar Pelangi, “Dunia, ini Aku, datang padamu”.

Demikian sejarah sandal megalomania yang inspiratif itu. Belakangan aku harus rela melepas ambisiku untuk mengejar copet di mall itu, jika ada. Sebabnya, tak lain akibat peta dunia di sandal itu, karetnya tak mencengkeram kuat di lantai yang licin. Sebenarnya dia tak lulus tes ‘kepeleset’, namun godaan “the world at your feet” ini begitu sulit ditolak. Pelajaran penting segera kuambil. Untuk menjadi megaloman, risiko langsungnya adalah mudah terpeleset dan terjungkal. Terjungkal karena terlalu banyak bermimpi, atau terlalu sombong ingin menaklukkan dunia di kakinya sendiri.

Sandal Jepit

Posted in sendal on October 6, 2010 by ditorolies

Sandal jepit atau sandal Jepang adalah sandal berwarna-warni dari karet atau karet sintetis. Tali sandal berbentuk huruf “v” menghubungkan bagian depan dan bagian belakang sandal. Bagian bawah sandal umumnya rata (tidak memiliki hak), sedangkan bagian atas sandal tidak memiliki penutup.
Sandal jepit dipakai dengan meletakkan poros bagian depan tali sandal di antara ibu jari dan telunjuk kaki, sehingga tidak terlepas sewaktu dipakai berjalan. Selain dipakai di dalam ruang atau kamar mandi, sandal jepit digunakan di luar rumah pada kesempatan tidak resmi, dan kegiatan rekreasi seperti di pantai atau kolam renang.
Sandal jepit juga disebut sandal swallow. Nama tersebut berasal dari salah satu merek sandal jepit. Havaianas adalah merek sandal jepit eksklusif dari Brazil. Perusahaan ini memulainya pada tahun 1962 dengan memproduksi sandal mirip zōri, namun dibuat dari karet.

BUDAYA SANDAL DAN PERKEMBANGANNYA BI BEBERAPA NEGARA

Posted in sendal on October 6, 2010 by ditorolies

Agar telapak kaki tidak kedinginan maupun kotor saat menginjak lantai, jika berada di tempat non formal alias tempat santai, kita akan menggunakan sandal. Kini, sandal tidak hanya sebagai alas untuk melindungi kaki melainkan juga sudah berkembang menjadi tren dalam fashion. Tapi tahukah Anda ternyata sandal sudah ada sejak zaman Yunani dan Romawi kuno?

Sandalion (asal kata sandal dalam bahasa Yunani) pertama kali digunakan oleh orang Yunani dan Romawi kuno. Saat itu sol dibuat dari gabus. Untuk membuat gabus tidak cepat rusak maka penutup gabus tersebut dibuat dari kulit yang disatukan dengan cara dijahit dengan bagian alas. Agar mudah berjalan dan tidak terlepas dari kaki pemakai, sandal dilengkapi dengan sabuk atau tali.

Di Inggris, sandal tradisional muncul pada era Victoria. Pangeran Albert menggunakan sandal kulit yang polos dan merupakan sandal satu-satunya yang dilapisi kapas sutra. Maka saat itu terkenal dengan Albert sandal. Saat itu di Inggris, sandal sering digunakan untuk di dalam rumah dan acara informal.

Pada tahun 1135-1189, seorang petugas dinasti Selatan, Zhou Qu Fei yang ditempatkan di Quanxi, Propinsi China, menggambarkan dua jenis sandal yang ia lihat di JiaoZhi (sekarang Vietnam) dalam sebuah buku “Da Dai Wai Ling.” Sandal jenis pertama, ujung sandal bagian depan berbentuk seperti jamur kemudian sandal jenis kedua, penutup sandal di bagian atas dan bawah terbuat dari kulit.

Pada tahun 1868-1912, sandal mulai berkembang di Jepang. Umumnya di Jepang, masyarakat terbiasa menggunakan alas kaki sebelum memasuki rumah. Mereka menggunakan sandal sebagai pelindung kaki dan untuk menjaga kebersihan dalam rumah.

Kini, sandal digunakan tidak hanya sebagai alas kaki untuk melindungi kaki dari benda keras maupun kotoran. Sandal kini telah menjadi bagian dari trend fashion dimana banyak sandal yang dibuat dengan beragam motif dan bahan yang disesuaikan dengan mode saat ini.